Proses Analisis Otak

Sistematika lain yang tak kalah mengagumkan dari kerja otak
adalah kemampuan analitiknya. Kemampuan ini didukung oleh
adanya struktur yang tertata dan organisasi pengelolaan data yang
sangat baik. Secara mendasar, otak dilengkapi dengan sistem BIOS
(Basic Input Output System) alias sistem penunjang hidup (vegetatif )
yang diperankan oleh batang otak dan medula oblongata yang bersifat
spartan, terus-menerus, dan tidak dipengaruhi oleh sistem memori
sementara (sistem persisten ini dikenal sebagai flash memory). Ada pula
sistem Random Access Memory (RAM) yang diperankan oleh sebagian
sistem limbik, sebagian talamus dan hipotalamus, korpus amigdala,
hipokampus, dan korpus kalosum.

Karpus kalosum adalah bangunan dari substantia alba
yang terdiri dari banyak serabut saraf penghubung otak
kiri dan kanan.

Tugas sistem ini adalah mempertemukan kepentingan atau
kebutuhan dengan data tersimpan dan program operasi. Jika sistem
BIOS diperlukan untuk mempertahankan fungsi vital kehidupan,
fungsi RAM adalah mengorkestrasi kerja otak. Data yang masuk dari
jalur mana pun akan diproses berdasarkan kebijakan dan kapasitas
elemen-elemen dalam kompartemen RAM. Sistem operasi yang
dipergunakan adalah program yang terdiri dari sederetan variabel fitrah
insaniah (lahut) dan serangkaian variabel kontraversinya (nasut).

Secara sederhana, dapat digambarkan bahwa RAM otak manusia
menyinergikan secara proporsional kebutuhan BIOS dan kebutuhan
kekinian atau keadaan yang dihadapi, misalnya perubahan suhu,
ketersediaan program, serta ketersediaan data yang dapat dipergunakan
dan dioperasikan. Sementara itu, proses ini diyakini dijalankan oleh
bagian neokorteks, khususnya korteks frontalis. Dalam hal ini, korpus
kalosum dan kawan-kawan bertindak selaku bus interface unit alias
unit pengakomodasi data. Selanjutnya, data yang masuk akan diproses
secara aritmetika, mengingat bahasa yang disepakati (hipotetikal)
adalah bahasa biner.

Hasil pengolahan data secara aritmetika di Arithmetic Logic
Unit ini dapat dieksekusi dalam bentuk tindakan, ingatan, maupun
ketidakpedulian. Penentuan sikap keluaran ini dipengaruhi oleh sistem
pengambilan keputusan yang sedikit banyak memiliki alur seperti
rantai Markov, yaitu membentuk suatu algoritma dari berbagai input
dan menganalisisnya untuk mendeduksi sebuah keluaran logaritmik.

Untuk mendukung berbagai fungsi canggih itulah, otak manusia
dilengkapi dengan cairan ajaib yang bernama neurotransmiter alias
penghubung cerdas antara sel-sel neuron. Penghubung ini disebut
cerdas karena dapat mempertimbangkan proses terbaik bagi kerja
otak. Di satu sisi ia dapat memperkuat sinyal (eksitatori) dan di sisi
lain ia dapat menghambat sinyal (inhibitori). Kemampuan inilah
yang kemudian dikembangkan sebagai modal untuk sifat sensitisasi
(kepekaan) dan habituasi (pembiasaan). Dengan kedua sifat inilah
kita menjadi pandai beradaptasi dengan lingkungan. Maklumlah, kita
tinggal di sebuah dunia yang di dalamnya berlaku peristiwa-peristiwa
yang tidak semuanya sesuai dengan harapan kita!

Neurtransmiter pada Otak

Saraf Karnial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: